Archive for March, 2009
Baru saja kebahagian itu singgah, kini duka cita mengusirnya…
Istriku mengalami keguguran!!! Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un.
Aku tidak mencari kambing hitam, tapi kalo boleh berburuk sangka aku hanya ingin mencurigai perjalanan Sangatta-Balikpapan yang super tidak nyaman itu yang mengakibatkan istriku muntah-muntah 2x, sementara si sulung 3x, dan si kecil 5x. Sebenarnya rasa ingin muntah itu sudah sampai ditenggorokanku juga.
Empat hari sesampainya di Sukabumi istriku mengalami bercak-bercak pendarahan, seminggu kemudian (malam ini) dokter memvonis harus dikuret setelah tadi pendarahan itu terjadi.
Sabar dan tawakal adalah sebaik-baiknya sikap.
Terbukti sudah bahwa beberapa hari belakangan ini bukan sakit perut biasa, Selepas maghrib tadi telah dilakukan test urine dengan menggunakan SENSITIF “Strip Uji Kehamilan Pribadi 99,9% Akurat Hasil Dalam 1 Menit”, terbentanglah 2 garis merah itu: Alhamdulillah.
Besok pagi rencananya akan diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan perawatan serta obat dan vitamin.
Bahwa dalam masa-masa mengidam ini seringkali didera rasa mual hebat dan keadaan tubuh yang serba tidak enak lainnya. Mengingat si kecil baru berumur 16 bulan maka dikhawatirkan tidak terurus sebagaimana mestinya.
Maka diputuskan untuk mengajukan 3 hari cuti, aku akan mengantar istri dan tiga anakku pulang ke Sukabumi.
Hari minggu adalah waktu yang tepat untuk melakukan kerja bakti:
Istriku lagi sakit perut, si kecil rewel terus, dengan berat hati kutinggalkan mereka demi panggilan kerja di hari libur.
Dijemput jam 9.30 WITA meluncur ke dua tempat untuk memindahkan perangkat telekomunikasi dari tempat pertama ke tempat kedua. Di sini pekerjaan selesai jam 12.30.
Jam 12.35 meluncur ke luar kota untuk memindahkan koneksi kabel dari dua perangkat telekomunikasi. Tiba di kota itu jam 14.10 langsung makan di warung langganan sampe ketiduran nungguin jemputan mobil satunya lagi.
Jam 16.00 baru tiba di lokasi langsung kerja sampai dengan jam 17.45. Dalam perjalanan pulang itu hujan turun dengan derasnya diiringi kilat berkilauan di ujung dunia sana, sampai akhirnya petir menyambar serasa dekat sekali, ngeri.
Tiba di perbatasan kota jam 19.30, mobil kembali belok kiri menuju tempat kerja kedua singgah tadi untuk menyelesaikan tugas yang belum rampung. Hujan masih lebat karena itu aku bilang: “kalo perlu bantuanku tinggal panggil aja ya”! aku tinggal di kabin mobil sambil dengerin musik di radio.
Jam 20.30 hujan akhirnya berhenti, tinggal rintik-rintik saja yang turun. Aku bergegas masuk ke ruangan tempat kerja……..
Akhirnya Jam 21.30 aku ketuk pintu rumah, hayyyya 12 jam total buat project pemilu ini.